Berita Hawzah – Peristiwa Asyura tidak berakhir dengan syahidnya Sayyiduna Aba Abdillah al-Husain (as) dan para sahabat setianya; melainkan sejak saat itu pula, babak baru dari perjuangan Husaini dimulai dengan peran sadar dan berani dari para wanita Ahlulbait (as). Oleh karena itu, dalam serangkaian wawancara "Maktab Zainabi", kami bermaksud untuk mengkaji, melalui wawancara dengan Hujjatul Islam Amirhasan Mozaffarizad —seorang pakar dan peneliti sejarah Islam— berbagai dimensi yang jarang dibaca ulang dari peran para wanita Ahlulbait (as) dalam menjaga tetap hidupnya perjuangan Asyura. Selanjutnya, kami mengajak Anda untuk menyimak secara lengkap wawancara historis-analitis ini.
Peran Wanita dalam Peristiwa Asyura
Salah satu aspek penting dan berpengaruh dari kehadiran wanita dalam perjuangan Asyura adalah peran para wanita yang meskipun secara pribadi tidak berada di Karbala, namun memiliki andil yang sangat menentukan dalam membuahkan hasil dari pengorbanan darah Sayyiduna Aba Abdillah al-Husain (as) dan para syuhada Karbala. Peran yang begitu besar dan abadi sehingga tidak bisa dilewatkan begitu saja.
Di antara wanita tersebut adalah Sayyidah Fatimah Kilabiyah, yang lebih dikenal dengan Sayyidah Ummul Banin (semoga salam Allah tercurah kepadanya), istri mulia Amirul Mukminin Ali (as). Diriwayatkan bahwa ketika Amirul Mukminin (as) berkata kepada Aqil, saudaranya sekaligus ahli nasab (silsilah keturunan) Arab yang ternama, "Pilihlah seorang istri untukku yang akan melahirkan anak-anak pemberani dan perkasa bagiku," Aqil menjawab:
"Menikahlah dengan wanita ini, karena di antara bangsa Arab, aku tidak mengetahui sosok yang lebih berani daripada ayah dan leluhurnya, serta lebih tangguh dan gagah berani daripada mereka."
Ajaran Bermusyawarah dengan Para Ahli dalam Sirah Alawi
Poin yang sangat penting dalam peristiwa ini adalah pemanfaatan musyawarah dengan para ahli oleh Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib (as). Tindakan beliau yang berunding dengan saudaranya Aqil —yang merupakan seorang ahli nasab dan pakar di bidangnya— merupakan ajaran abadi bagi para pengikut ajaran Alawi, agar dalam urusan-urusan penting, perencanaan masa depan, dan program-program besar kehidupan mereka, senantiasa menjadikan musyawarah dengan para ahli dan spesialis sebagai prioritas. Buah dari pernikahan yang penuh berkah ini adalah empat orang putra pemberani, yang di puncaknya adalah Qamar Bani Hasyim, yaitu Sayyiduna Abbas (as), beserta saudara-saudara beliau yang setia.
Peran khusus Sayyidah Ummul Banin (sa) dimulai sejak masa setelah syahidnya Sayyidusy Syuhada (as) dan kedatangan Basyir ke Madinah. Berdasarkan riwayat dari Allamah Mamaqani (semoga rahmat Allah tercurah kepadanya) dalam kitabnya yang berharga Tanjihul Maqal, ketika Basyir membawa kabar syahidnya Sayyidusy Syuhada ke Madinah, untuk mempersiapkan mental dan spiritual Sayyidah Ummul Banin dalam menghadapi musibah yang sangat berat itu, ia terlebih dahulu menyebutkan satu per satu nama putra-putra beliau sendiri dan mengumumkan kabar syahidnya mereka. Namun Sayyidah Ummul Banin, dengan mengabaikan kesyahidan putra-putranya, berulang kali berkata:
"Akhbirni 'anil Husain" (Kabari aku tentang Husain; apakah ia selamat?).
Dalam kelanjutan percakapan ini, ketika Basyir ragu untuk memberikan jawaban langsung, sesuai dengan riwayat yang disebutkan oleh Al-Mamaqani dalam kitabnya yang berharga Tanjihul Maqal, Sayyidah Ummul Banin (sa) bersabda:
«أولادی وَ مَن تَحتَ الخَضراءِ کُلُّهُم فِداءٌ لأبی عَبدِاللهِ الحُسَین»
(Anak-anakku dan seluruh yang ada di bawah langit yang biru ini, semuanya adalah tebusan bagi Aba Abdillah al-Husain.)
Perkataan agung ini menggambarkan cermin keistimewaan makrifat dan pengenalan mendalam terhadap imam dari wanita mulia ini, dan mengajarkan kepada semua orang bahwa jiwa anak-anaknya dan seluruh penghuni bumi, semuanya harus menjadi tebusan bagi kedudukan luhur imamah dan wilayah Sayyidusy Syuhada (as).
Menuntut Keadilan dan Menggubah Epik oleh Sayyidah Ummul Banin (sa)
Di antara peran penting lainnya dari Sayyidah Ummul Banin (sa) dalam peristiwa perjuangan Asyura adalah masalah menuntut keadilan dan sikap tegar menghadapi para pembunuh serta kaum zalim yang telah membunuh Sayyidusy Syuhada (as). Perlu diperhatikan bahwa beliau berasal dari keluarga pejuang, pemberani, dan memiliki pengaruh dalam ranah sosial, kenegaraan, serta kemiliteran. Dan mungkin karena alasan inilah pula Syimr si terlaknat membawa surat jaminan keamanan untuk Sayyiduna Abbas (as). Di satu sisi, mereka khawatir bahwa suku Bani Kilab akan bereaksi terhadap pemerintahan dan berusaha menuntut balas, dan di sisi lain, mereka sangat menyadari kedudukan, keagungan, keberanian, dan kewibawaan Qamar Bani Hasyim (as).
Mereka mengetahui bahwa selama sang pembawa panji Imam Husain (as) masih berada di sisi beliau, pencapaian tujuan-tujuan mereka akan sangat sulit dan melelahkan.
Oleh karena itu, apa yang terlihat dalam sikap Sayyidah Ummul Banin (sa) bukanlah sekadar tangisan dan ratapan semata; melainkan di samping berkabung, beliau juga membacakan syair-syair ratapan duka yang pada hakikatnya merupakan penggubahan perjuangan.
Syair Ratapan dan Fungsi Puisi dalam Perjuangan Asyura
Maksudnya, syair-syair yang dibacakan oleh Sayyidah Ummul Banin (sa) adalah gubahan-gubahan yang di dalamnya terlihat jelas semangat juang, epik, tantangan terhadap musuh, serta penggambaran kehinaan dan kerendahan musuh. Menurut beberapa riwayat, beliau setiap hari mendatangi pemakaman Baqi', dan sambil didampingi oleh putra Qamar Bani Hasyim, yaitu Ubaidillah bin Abbas bin Ali bin Abi Thalib, beliau melantunkan ratapan.
Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, ratapan-ratapan beliau patut dikaji, ditelaah, dan dicermati secara ilmiah pada tempatnya; karena syair-syair ini bukan sekadar ungkapan perasaan dan duka cita, melainkan dari berbagai dimensi mengandung muatan politik, militer, dan keyakinan, sehingga dapat dianalisis secara serius. Seperti yang telah disebutkan, dalam masyarakat Arab, baik pada masa awal Islam maupun di zaman kita, puisi memiliki pengaruh yang sangat besar. Oleh karena itu, Ahlulbait (as) menganjurkan para syiah untuk menggubah dan membacakan puisi.
Mengenai wafatnya Sayyidah Ummul Banin (sa), riwayat-riwayat sejarah menyebutkan tahun 64 atau 70 Hijriah. Saat ini, makam suci wanita agung ini di pemakaman Baqi', meskipun menghadapi berbagai pembatasan dan tindakan keras dari pihak Wahabi, makam tersebut tetap menjadi pusat perhatian, tempat bertobat, dan ziarah bagi para pecinta Aba Abdillah al-Husain serta Qamar Bani Hasyim (as); sebuah makam tanpa tanda dan nisan, yang ziarahnya merupakan dambaan setiap orang yang mencintai ajaran Asyura.
Komentar Anda